LABUHANBATU — WaspadaIndonesia.com
Kondisi pemeliharaan tanaman kelapa sawit di PTPN IV Regional 1 Kebun Sei Baruhur, Afdeling 4 tampak dipenuhi tumbuhan merambat yang disebut sebagai kelompongan, disertai tanaman pengganggu lainnya dan semak yang tumbuh cukup lebat, seperti diblok G
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai pelaksanaan pemeliharaan kebun. Sebab, tanaman sawit yang semestinya mendapat perawatan secara berkala terlihat seperti telah cukup lama tidak tersentuh kegiatan pengendalian gulma.
Dari dokumentasi lapangan, tajuk dan batang sejumlah pokok sawit tampak dikelilingi tumbuhan merambat. Pada bagian bawah tanaman juga terlihat vegetasi liar dan semak yang menutupi sebagian areal kebun.
Kondisi seperti ini patut menjadi perhatian karena gulma yang tumbuh berlebihan berpotensi mengganggu efektivitas pemeliharaan, menimbulkan persaingan terhadap tanaman utama, menghambat akses pekerja, serta menyulitkan kegiatan panen dan pemeliharaan.
Alasan rotasi 4 bulan dipertanyakan
Ketika dikonfirmasi pada Senin, 7 September 2026, di Kantor Afdeling 4, Asisten Afdeling disebut sedang tidak berada di tempat.
Sementara itu, Krani Afdeling bernama Juni memberikan penjelasan bahwa kegiatan pemeliharaan akan segera memasuki rotasi berikutnya.
“Tidak lama lagi akan rotasi pemeliharaan, empat bulan sekali,” demikian penjelasan Juni saat dikonfirmasi.
Namun, keterangan tersebut justru memunculkan pertanyaan lanjutan. Pasalnya, berdasarkan pantauan lapangan, kondisi tanaman dan semak yang terlihat di Afdeling 4, khususnya Blok G14 menunjukkan bahwa pertumbuhan gulma sudah berlangsung cukup lama.1
Jika benar sistem pemeliharaan menggunakan rotasi empat bulanan, publik tentu berhak mempertanyakan bagaimana pengawasan terhadap kondisi tanaman selama jeda rotasi tersebut, terutama apabila pertumbuhan gulma sudah terlihat mengganggu areal tanaman.
Jangan hanya menunggu jadwal rotasi
Pemeliharaan perkebunan tentu tidak semata-mata berkaitan dengan jadwal administrasi atau rotasi pekerjaan. Kondisi aktual tanaman di lapangan semestinya menjadi salah satu dasar bagi pengelola kebun untuk menentukan apakah suatu areal membutuhkan tindakan lebih cepat.
Apalagi, produktivitas kebun sangat bergantung pada pengendalian gulma, sanitasi, pemeliharaan piringan dan gawangan, .
Karena itu, apabila suatu blok terlihat mengalami pertumbuhan gulma yang cukup berat sebelum jadwal rotasi berikutnya, evaluasi lapangan menjadi penting untuk memastikan standar pemeliharaan benar-benar berjalan sebagaimana mestinya.
Publik minta kinerja Asisten Afdeling 4 dievaluasi
Kondisi tersebut akhirnya memunculkan desakan agar manajemen PTPN IV Regional 1 Kebun Sei Baruhur tidak hanya melihat persoalan dari sisi jadwal rotasi, tetapi juga melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi di Afdeling 4.
Publik berharap kinerja Asisten Afdeling 4 beserta jajaran bawahannya dievaluasi, khususnya terkait pengawasan pemeliharaan tanaman dan respons terhadap kondisi gulma di lapangan.
Pertanyaan yang patut dijawab manajemen antara lain: kapan terakhir blok G dilakukan pemeliharaan, berapa luas areal yang telah dikerjakan, bagaimana standar pengendalian kelompongan dan gulma diterapkan, serta apakah kondisi tersebut telah memengaruhi produktivitas tanaman?
Manajemen PTPN IV Regional 1 juga diharapkan terbuka memberikan penjelasan agar persoalan ini tidak berhenti sebagai sorotan lapangan semata.
Sebab, kebun bukan hanya soal luas areal dan jumlah pokok sawit. Pemeliharaan yang konsisten merupakan bagian penting untuk menjaga tanaman tetap produktif dan memastikan aset perusahaan dikelola secara optimal.(rm)



































