Waspadaindonesia.com | Aceh, Banjir bandang yang melanda berbagai penjuru Aceh bukan sekadar catatan bencana, melainkan ujian nurani bagi kita semua. Air datang membawa lumpur dan duka, merobohkan rumah, memutus jalan, dan menyisakan kelelahan panjang di wajah rakyat. Namun dari tanah yang basah ini, Aceh kembali menunjukkan wataknya: tabah, bersatu, dan tak pernah menyerah.
Banjir gelondongan kayu telah memorakporandakan sejumlah wilayah, termasuk Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bireuen, Bener Meriah, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Langsa, Lhokseumawe, Subulussalam, Nagan Raya, dan Pidie.
Dalam suasana genting itu, kepemimpinan diuji oleh kecepatan dan keberpihakan. Saya menyampaikan apresiasi yang tulus kepada Muzakir Manaf (Mualem), Gubernur Aceh, atas kerja kerasnya menangani bencana banjir bandang di Aceh. Langkah-langkah cepat, koordinasi lintas sektor, serta keberanian mengambil keputusan di tengah keterbatasan adalah ikhtiar yang layak dihargai. Ini bukan tentang sorotan, melainkan tentang hadir, hadir untuk rakyat saat mereka paling membutuhkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Apresiasi ini saya iringi doa. Semoga Mualem senantiasa diberi kekuatan, kesehatan, dan keteguhan hati dalam mengemban amanah sebagai kepala pemerintahan Aceh. Kepemimpinan yang tegar adalah jangkar di tengah badai; darinya rakyat menemukan arah dan harapan.
Pemulihan Aceh adalah kerja bersama. Karena itu, besar harapan saya agar seluruh SKPA serta para Bupati dan Wali Kota se-Aceh mengikuti langkah ikhlas tersebut, bekerja tanpa keluh, bergerak tanpa menunda, dan menyatukan energi untuk rakyat. Dari pembersihan lingkungan, pemulihan layanan kesehatan dan pendidikan, hingga rehabilitasi infrastruktur dan penguatan ekonomi warga, semuanya menuntut sinergi yang rapi dan berkelanjutan.
Kepada Pemerintah Pusat, saya berharap adanya kemudahan dan kelancaran dalam memenuhi seluruh kebutuhan pemulihan pascabencana. Percepatan regulasi, kecukupan anggaran, dan dukungan teknis lintas kementerian harus berjalan seirama agar hunian layak, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, pemulihan psikososial, serta pemulihan ekonomi warga dapat segera terwujud. Anak-anak perlu kembali ke sekolah dengan rasa aman; petani dan nelayan perlu alat untuk memulai lagi; pelaku UMKM perlu modal untuk bangkit.
Aceh adalah tanah yang berulang kali diuji, namun selalu menemukan cara untuk berdiri. Dari lumpur tumbuh tekad, dari duka lahir solidaritas. Dengan kepemimpinan yang bekerja, birokrasi yang ikhlas, dan dukungan negara yang utuh, saya percaya Aceh akan bangkit, lebih kuat, lebih adil, dan lebih manusiawi.

































