KUTACANE | Pagi itu, sinar mentari menembus tipis kabut di Desa Tanjung Gabungan, Darulhasanah, Kutacane. Hamparan karpet berbalut putih tertata rapi di halaman Masjid Al Badrah. Puluhan, bahkan ratusan warga setempat, dari yang tua hingga anak-anak, berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk menunaikan Salat Idul Adha 1447 Hijriah, yang tahun ini jatuh pada 27 Mei 2026. Namun ada suasana berbeda dan penuh kebanggaan di balik kekhidmatan suasana Id kali ini. Untuk pertama kalinya, seorang pemuda asli desa itu, Tgk Muhammad Ridho, diamanahi sebagai imam salat Id.
Nama Muhammad Ridho memang begitu harum di kampung halamannya. Ia dikenal bukan hanya karena keluguannya sebagai pemuda, tapi juga karena kemampuannya yang luar biasa dalam menghafal Al-Qur’an 30 juz atau yang dikenal sebagai hafiz. Selama beberapa tahun terakhir, Ridho menimba ilmu di sebuah pesantren ternama di Bogor, memperdalam pemahaman dan hafalan Al-Qur’an yang menjadi dambaan banyak keluarga di Aceh Tenggara. Pulang kampung pada momentum Idul Adha tahun ini, Ridho didaulat oleh Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Al Badrah untuk menjadi imam, posisi yang biasanya dipegang oleh para ulama atau tokoh agama senior di desa itu.
Sorot mata para jemaah pagi itu menyiratkan rasa haru dan bangga. Bagi warga Tanjung Gabungan, hadirnya imam muda sekaliber Ridho adalah angin segar dan teladan baru bagi generasi muda. Lantunan takbir, tahmid, dan tahlil menggema mengiringi derap langkahnya menuju mimbar, menggantikan suara-suara lama yang sebelum ini mengisi ruang rohani masjid mereka. Salat pun berlangsung khidmat, dengan Ridho membacakan ayat-ayat panjang dalam dua rakaat, memperlihatkan keluasan hafalannya serta tajwid yang terjaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah usai salat, khutbah Idul Adha disampaikan oleh Tgk Sahdari S.Pd, seorang pendidik sekaligus mubaligh di kecamatan Darulhasanah. Dalam khutbahnya, Tgk Sahdari menekankan pentingnya keikhlasan dan pengorbanan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, sekaligus mengapresiasi generasi muda yang mampu menjadi garda terdepan syiar Islam di tengah era modernisasi dan tantangan globalisasi yang terus mengikis nilai-nilai agama. Nama Ridho kembali menjadi contoh, disebut sebagai bukti nyata bahwa anak muda di desa masih mau menjaga, merawat, dan mengamalkan ajaran Islam dengan penuh keikhlasan dan pengabdian.
Idul Adha tahun ini terasa istimewa. Tak hanya karena Ridho menjadi imam, namun juga karena daging kurban yang terkumpul lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Gotong-royong warga makin terasa saat proses penyembelihan, pembagian, hingga seluruh daging sampai ke rumah-rumah warga prasejahtera, bahkan ke pelosok dusun terjauh di kaki bukit Leuser. Suasana keguyuban itu, secara tidak langsung, semakin memperkokoh nilai solidaritas sekaligus merekatkan kebersamaan antarwarga.
Bagi Ridho pribadi, tugas sebagai imam salat Id bukan sekadar kehormatan melainkan juga amanah besar. Dalam bincang singkat usai salat, ia menyampaikan harapannya agar lebih banyak generasi muda desa yang mau belajar Al-Qur’an secara mendalam. “Saya ingin adik-adik di sini semakin cinta dengan masjid, semakin berani tampil dan menjaga tradisi agama yang sudah diwariskan orang tua kita,” tuturnya singkat, namun dengan mata berbinar.
Fenomena pemuda sebagai imam dan hafiz 30 juz di desa-desa pelosok Aceh Tenggara menjadi penanda kuat bahwa perkembangan dan transformasi pendidikan agama tidak hanya berjalan di kota-kota besar, tetapi juga tumbuh dan hidup di pelosok-pelosok negeri. Hal ini menjadi harapan baru, bahwa kaderisasi ulama, imam, dan dai tidak akan pernah terputus. Idul Adha tahun 2026 di Desa Tanjung Gabungan tak hanya menjadi ritual tahunan, melainkan juga menjadi momentum yang menegaskan pentingnya regenerasi, harapan, dan kesinambungan nilai-nilai iman yang diwarisi dari generasi ke generasi.
Dengan wajah-wajah sumringah, para warga perlahan membubarkan diri, menenteng daging kurban untuk dibagikan kepada keluarga di rumah. Ridho kembali ke rumahnya, membawa kenangan manis dan secercah harapan, bahwa surau kecil di desa mereka akan terus hidup, semangat keislaman akan tetap menyala, dan generasi berikutnya siap tampil di barisan terdepan menghidupkan cahaya Al-Qur’an di bumi Aceh.
Laporan : Salihan Beruh




































