Apakah Jabatan Publik Mengenal Tanda Tangan ‘Tidak Sadar

hayat

- Redaksi

Kamis, 12 Februari 2026 - 16:37 WIB

50388 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

METRO, 12 Februari 2026 – Menanggapi rilis resmi HMI Kota Metro yang mempertanyakan konsistensi kepemimpinan Wali Kota terkait dalih “tekanan massa” dalam penandatanganan dokumen komitmen Tenaga Harian Lepas (THL), Pemerhati Kebijakan Publik Hendra Apriyanes (Anes) menilai persoalan ini telah berkembang menjadi ujian legitimasi moral kepala daerah.

Menurut Anes, pengakuan Wali Kota yang menyebut penandatanganan dokumen pada 16 September 2025 dilakukan dalam kondisi “tidak sadar” atau “tertekan” bukan sekadar polemik komunikasi politik, tetapi menyentuh inti tanggung jawab jabatan publik.

“Jika benar sebuah dokumen resmi ditandatangani dalam kondisi tidak sadar, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keabsahan dokumen itu, tetapi legitimasi moral kepemimpinan itu sendiri,” tegas Anes.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menekankan bahwa dalam perspektif UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, setiap pejabat publik wajib menjunjung Asas Kepastian Hukum dan Asas Kecermatan dalam setiap keputusan.

Tekanan massa, lanjutnya, adalah bagian dari dinamika demokrasi. Namun tekanan tersebut tidak pernah menjadi dasar pembenar bagi tindakan administratif yang tidak disadari sepenuhnya.

Baca Juga :  Polres Metro Tegaskan Sudah Menangkap Tersangka Utama Pembunuhan di Metro Timur

“Tekanan publik adalah hal wajar dalam demokrasi. Tetapi kehilangan kesadaran dalam mengambil keputusan bukan standar kepemimpinan publik,” ujarnya.

Anes juga menyoroti paradoks di tengah capaian skor 84,43 (Zona Hijau) dari Ombudsman RI bagi Kota Metro. Menurutnya, penilaian kepatuhan administratif tersebut menjadi ironi apabila pada saat yang sama muncul pengakuan bahwa keputusan strategis bisa diambil dalam kondisi tertekan.

“Zona hijau mengukur kepatuhan prosedur pelayanan. Tetapi legitimasi moral kepala daerah diukur dari konsistensi dan tanggung jawab atas setiap tanda tangan jabatan,” kata Anes.

Terkait perkara yang kini tengah diproses di Polres Metro, Anes menyatakan bahwa proses hukum harus berjalan secara profesional, objektif, dan transparan hingga dapat diuji secara terbuka di pengadilan.

“Jika perkara ini telah masuk ranah hukum, maka biarkan mekanisme hukum bekerja. Justru di pengadilanlah kebenaran administratif dan konsistensi pernyataan dapat diuji secara terang benderang,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penegakan hukum yang independen penting untuk menjaga kepastian bagi para THL serta memulihkan kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan daerah.
Lebih lanjut, Anes menyatakan akan membawa persoalan ini ke ranah pengawasan eksternal.

Baca Juga :  Gerobak Cadang Sapi Lawang : Dispungsi Birokrasi, Distori Kekuasaan, Dan Manuver Depensip Di Kota Metro

“Saya mendorong Ombudsman RI Perwakilan Lampung untuk tidak berhenti pada penilaian kepatuhan administratif, tetapi melakukan pemeriksaan atas dugaan maladministrasi dalam proses lahirnya dokumen tersebut. Dalam waktu dekat, saya akan menyampaikan laporan resmi agar persoalan ini diuji secara objektif dan transparan,” tegasnya.

Menurutnya, jika terdapat indikasi cacat prosedur, kelalaian jabatan, atau disfungsi sistem paraf koordinasi, maka hal tersebut harus dibuka secara terang demi kepentingan publik.
“Pengawasan eksternal diperlukan agar publik mendapatkan kepastian: apakah ini murni kesalahan komunikasi, kelalaian administrasi, atau persoalan tata kelola yang lebih serius,” tambah Anes.

Menutup pernyataannya, ia memberikan penegasan yang lebih keras:
“Jabatan publik tidak mengenal istilah tanda tangan tanpa kesadaran. Jika itu terjadi, maka yang harus dipulihkan bukan hanya dokumennya, tetapi standar moral kepemimpinan di Kota Metro.”

Berita Terkait

Pemkot Metro Rotasi 34 Pejabat, Sejumlah Posisi Strategis Berganti
Pengelolaan TPA Karangrejo Berproses, Masyarakat dan Pemerhati Dorong Anggaran 2027 Penanganan Berkelanjutan.
PNS di Metro Meninggal Dunia Ditembak Usai Cekcok Soal Utang, Pelaku Diburu Polisi
GIAT SABUK KAMTIBMAS (sambang,budaya,kemanan dan ketertiban kota metro) polres kota metro bersama ormas grib jaya
MENODAI SEJARAH DEMOKRASI KOTA METRO: UPAYA PEMBUNGKAMAN PARTISIPASI PUBLIK DI TENGAH PROSES PENGUJIAN OMBUDSMAN RI
Pernyataan Resmi Indomedia Network terkait Hak Jawab Berita dan Perlawanan Segala Bentuk Kriminalisasi dan Intervensi Pekerja pers
Gerobak Cadang Sapi Lawang : Dispungsi Birokrasi, Distori Kekuasaan, Dan Manuver Depensip Di Kota Metro
Tekap 308 sat reskrim polres metro tangkap asisten rumah tangga yang nekat curi perhiasan majikan

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:26 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita

Senin, 26 Oktober 2026 - 02:58 WIB

18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:49 WIB

Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:23 WIB

Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM

Minggu, 25 Oktober 2026 - 00:47 WIB

Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:49 WIB

Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Yahdi Hasan Kawal Langsung Pemulangan Jenazah Warga Asal Aceh Tenggara dari Malaysia hingga Tiba di Kualanamu

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 01:31 WIB

Sidang Kedua Dugaan Korupsi Proyek Jembatan Silayakh Jilid II Agara Digelar, Jaksa Agendakan Pemeriksaan Saksi

Berita Terbaru