Oknum ASN Jadi Kontraktor Proyek Bronjong Lawe Penanggalan Diduga Gunakan Material Galian C Ilegal

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Senin, 20 April 2026 - 20:12 WIB

50350 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kutacane — Praktik penyimpangan dalam pengerjaan proyek pembangunan bronjong di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, kini menjadi perhatian publik setelah terungkap adanya dugaan penggunaan material galian C ilegal oleh pihak kontraktor. Lebih mengejutkan, salah satu kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut ternyata adalah Aparatur Sipil Negara (ASN), Abd RJ, yang juga berstatus sebagai pengawas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tenggara.

Proyek pemasangan bronjong yang dilakukan di bantaran sungai ini merupakan upaya pemerintah daerah dalam mencegah erosi dan banjir bandang yang kerap mengancam permukiman warga. Namun, indikasi penggunaan batu kali dari sumber yang tidak memiliki izin resmi merusak nilai pembangunan tersebut dan memperlihatkan celah lemahnya pengawasan dari instansi teknis terkait.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ditemui awak media di lokasi pada Minggu, 19 April 2026, Abd RJ secara tegas mengaku sebagai pelaksana proyek bronjong itu. “Benar saya yang mengerjakan proyek bronjong tersebut, tapi proyek ini kami kerjakan berdua dengan Samta,” ujarnya singkat tanpa menjelaskan lebih detail terkait keberadaan izin pengambilan material.

Dugaan penggunaan material galian C ilegal ini bermula dari pengamatan warga setempat dan bukti visual di lapangan. Batu kali yang digunakan untuk mengisi bronjong diduga diambil langsung dari sekitar lokasi proyek dengan bantuan alat berat jenis eskavator. “Kami warga hanya tahu material itu diambil di sekitar sini, tapi apakah legal atau ilegal, kami tidak tahu pasti,” ujar salah seorang warga yang enggan namanya disebut saat diwawancarai pada Sabtu, 18 April 2026.

Penggunaan batu kali berupa galian C ilegal dalam proyek yang didanai oleh uang negara merupakan pelanggaran serius yang tidak hanya mengancam aspek lingkungan, tetapi juga menimbulkan potensi tindakan pidana. Pengambilan material dari sumber yang tidak berizin bisa menyebabkan kerusakan lingkungan, seperti pengikisan sungai, abrasi, dan menurunnya daya dukung ekosistem di sekitar sungai.

Baca Juga :  Miliaran Rupiah Dana Pemeliharaan Jalan Nasional Kutacane -Lawe Pakam Batas Sumut, BPJN Aceh Terkesan Lamban

Lemahnya pengawasan ini semakin menyeruak saat ditemukan indikasi pembiaran oleh sejumlah pihak yang seharusnya mengawasi pelaksanaan proyek tersebut. Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, Hutama Karya (HK) sebagai rekanan utama, serta pengawas lapangan, diduga tidak menjalankan fungsi pengawasan secara optimal. Padahal, pengawas proyek pemerintah memiliki kewajiban mutlak untuk memeriksa dan memastikan legalitas semua material yang digunakan dalam proyek konstruksi. Kegagalan pengawasan ini berpotensi membuka ruang praktik korupsi dan penyimpangan lain yang merugikan negara dan masyarakat.

Sampai saat ini, upaya konfirmasi kepada pengawas lapangan di lokasi proyek belum berhasil dilakukan oleh awak media. Tidak adanya tanggapan dan kejelasan informasi dari pihak pengawas berbanding terbalik dengan keresahan warga yang menginginkan kejelasan status pengelolaan material dalam proyek ini.

Warga Desa Lawe Penanggalan dan pemantau lingkungan secara terbuka mendesak aparat penegak hukum (APH) untuk tidak tinggal diam dalam menghadapi dugaan pelanggaran ini. Mereka meminta agar pelaku yang terlibat, khususnya oknum ASN yang menjadi kontraktor proyek, diberikan tindakan hukum yang tegas jika terbukti melakukan pelanggaran. “Kami berharap pihak berwajib segera memeriksa dan menindak para pelaku yang melanggar aturan, agar kita semua terhindar dari kerusakan lingkungan yang lebih parah,” ujar tokoh masyarakat setempat.

Kasus ini mencerminkan masalah klasik dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelaksanaan proyek pemerintah di daerah. Konflik kepentingan yang muncul ketika seorang ASN menjabat sebagai pengawas sekaligus kontraktor proyek menjadi persoalan serius yang mesti segera dibenahi. Kondisi ini tidak hanya berpotensi mencederai kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah, tetapi juga merusak fondasi tata kelola pemerintahan yang transparan dan bertanggung jawab.

Dalam konteks regulasi, hal ini bertentangan langsung dengan prinsip pengadaan barang dan jasa pemerintah yang mengharuskan adanya pemisahan jelas antara pelaksana, pengawas, dan pihak yang menerima keuntungan agar terhindar dari penyimpangan. Selain itu, pengambilan galian C secara ilegal merupakan pelanggaran Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang mengharuskan setiap aktivitas pertambangan memiliki izin resmi dari pemerintah.

Baca Juga :  Menjadikan Negeri Aman dan Tentram Dalam Kemajemukan Bermasyarakat di Aceh Tenggara

Dugaan praktik penggunaan material ilegal ini juga berpengaruh pada upaya pelestarian lingkungan sungai yang menjadi nadi kehidupan penduduk sekitar. Tanpa pengelolaan dan pengawasan yang ketat, proyek pengendalian banjir yang seharusnya menjadi solusi, justru dapat memperparah kerusakan lingkungan dan menimbulkan risiko bencana yang lebih besar di kemudian hari.

Kasus di Desa Lawe Penanggalan ini perlu menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pengawasan dan transparansi dalam pelaksanaan proyek pemerintah, terutama yang melibatkan sumber daya alam. Kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pengawas, dan masyarakat menjadi sangat penting untuk menjamin bahwa pembangunan berjalan dengan prinsip kejujuran dan keberlanjutan.

Publik menanti langkah tegas aparat hukum dan pemerintah setempat dalam menangani dugaan pelanggaran yang sudah mencoreng nama baik lembaga pemerintahan sekaligus merugikan masyarakat secara luas. Keberanian mengungkap dan mengadili kasus ini akan menjadi kunci untuk menegakkan supremasi hukum serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi publik.

Hingga laporan ini disusun, belum ada tindakan resmi dari aparat penegak hukum terkait kasus ini. Namun, tekanan sosial dari warga dan bagi para pemangku kepentingan terus menguat untuk memastikan tidak ada ruang bagi praktik korupsi dan penyimpangan dalam pengelolaan proyek berbasis dana negara.

Di tengah harapan masyarakat akan pembangunan yang berkelanjutan dan akuntabel, transparansi dalam pengelolaan proyek dan sumber daya alam menjadi panggilan utama. Kasus Desa Lawe Penanggalan adalah cermin nyata betapa pentingnya pengawasan ketat dan integritas para pelaksana proyek demi masa depan lingkungan dan kesejahteraan rakyat.

Laporan : Salihan Beruh

Berita Terkait

Relawan Prabowo Ikut Menanggung Malu, Jalan Nasional Kutacane–Medan Berulang Kali Terendam, Jembatan Kuning I Didesak Dibongkar
Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita
18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi
Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam
Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM
Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical
Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam
Yahdi Hasan Kawal Langsung Pemulangan Jenazah Warga Asal Aceh Tenggara dari Malaysia hingga Tiba di Kualanamu

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:28 WIB

Bupati Karo Hadiri Apel Gelar Pasukan Ops Patuh Toba 2026 di Mapolres Karo

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Pererat Silaturahmi, Bupati dan Wabup Karo Hadiri Kerja Tahun di Sejumlah Desa

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Akhirnya! Jalan Rusak Puluhan Tahun Kutabuluh – Kutamale Mulai Diperbaiki

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Suryadi Djamil Apresiasi Kapolri Suyudi Ario Seto, Minta Sikat Narkoba hingga ke Pabrik

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:05 WIB

Pemkab Karo Raih Predikat INFORMATIF di KI Sumut Award 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:17 WIB

Kejari Nagan Raya Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum Lewat Pemusnahan Barang Bukti

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:32 WIB

Bupati Karo dan Kajari Perkuat Perlindungan Guru Lewat Program Jaksa Sahabat Pendidik

Senin, 19 Oktober 2026 - 09:49 WIB

Pemkab Karo Diundang Tampilkan Potensi Wisata dan UMKM di FLEI 2026 Jakarta

Berita Terbaru