BANDA ACEH – Dinamika politik di Aceh kembali menghangat menyusul mencuatnya lima nama yang diusulkan sebagai calon Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Dari lima kandidat yang dikantongi Ketua Umum Partai Aceh, Muzakir Manaf, nama Yahdi Hasan mencuat sebagai salah satu figur dengan peluang kuat untuk menduduki jabatan strategis tersebut.
Informasi yang diperoleh pada Jumat (8/4/2026) menyebutkan, lima nama telah berada dalam radar pertimbangan internal partai. Namun, hanya satu yang mengemuka ke publik, yakni Yahdi Hasan, anggota DPRA dari daerah pemilihan Aceh Tenggara–Gayo Lues. Empat nama lainnya masih dalam tahap pengkajian dan belum dipublikasikan karena pertimbangan politik yang matang di tingkat pimpinan partai.
Masuknya Yahdi Hasan dalam bursa calon Ketua DPRA bukan tanpa alasan. Legislator yang telah tiga periode berturut-turut duduk di parlemen Aceh itu dinilai memiliki rekam jejak, pengalaman, serta kapasitas kepemimpinan yang mumpuni. Di internal partai, ia disebut sebagai figur yang matang secara politik dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik lintas fraksi maupun dengan eksekutif.
“Yahdi Hasan dianggap mampu dari segi pengalaman dan kemampuan untuk duduk sebagai Ketua DPR Aceh,” ujar sumber internal Partai Aceh.
Karier politik Yahdi Hasan memang terbilang konsisten. Berasal dari Kabupaten Aceh Tenggara, ia membangun basis dukungan kuat di wilayah tengah Aceh, meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara. Dalam tiga periode pengabdiannya di DPRA, ia dikenal aktif menyerap aspirasi masyarakat, terutama terkait pembangunan infrastruktur, akses pendidikan, dan penguatan ekonomi masyarakat pedesaan.
Sejumlah tokoh masyarakat di wilayah tengah Aceh menilai, keberadaan figur dari kawasan tersebut di pucuk pimpinan legislatif akan membawa keseimbangan representasi pembangunan. Selama ini, wacana pemerataan pembangunan antara pesisir dan wilayah tengah kerap menjadi perbincangan dalam diskursus politik Aceh.
“Mayoritas masyarakat di lima kabupaten wilayah tengah Aceh mengenal Yahdi Hasan sebagai anggota DPR Aceh yang selalu menampung keluhan dan memberikan solusi,” ujar seorang tokoh masyarakat Aceh Tengah.
Kedekatan Yahdi dengan masyarakat juga menjadi modal sosial yang signifikan. Ia kerap hadir dalam berbagai forum kemasyarakatan, mulai dari pertemuan adat hingga diskusi pembangunan daerah. Sikapnya yang komunikatif dan terbuka membuatnya relatif mudah diterima di berbagai kalangan, baik tua maupun muda.
Julukan “Gubernur Wilayah Tengah” yang melekat padanya semakin mempertegas pengaruh politiknya di kawasan tersebut. Julukan itu muncul saat Pemilihan Gubernur Aceh terakhir, ketika ia aktif bergerak menggalang dukungan untuk Muzakir Manaf. Perannya dalam mengonsolidasikan kekuatan politik di wilayah tengah dinilai berkontribusi signifikan terhadap peta dukungan yang terbentuk kala itu.
Dalam konteks internal Partai Aceh, penentuan Ketua DPRA bukan sekadar soal jabatan, melainkan juga strategi menjaga soliditas dan keseimbangan kekuatan politik di parlemen. DPRA memiliki peran vital dalam pembahasan qanun, pengawasan anggaran, serta memastikan program-program pembangunan berjalan sesuai kepentingan rakyat Aceh. Karena itu, figur yang dipilih harus mampu menjembatani kepentingan politik sekaligus menjaga stabilitas kelembagaan.
Pengamat politik lokal menilai, jika Yahdi Hasan benar-benar ditetapkan sebagai Ketua DPRA, hal itu akan menjadi simbol penguatan representasi wilayah tengah dalam struktur kekuasaan Aceh. Selain itu, kepemimpinan yang berangkat dari pengalaman panjang di legislatif diharapkan mampu memperkuat fungsi pengawasan dan legislasi di tengah tantangan pembangunan dan dinamika ekonomi daerah.
Hingga kini, keputusan resmi belum diumumkan. Sekretaris Jenderal DPP Partai Aceh, Aiyub Abbas, saat dikonfirmasi belum memberikan keterangan terkait proses penetapan calon Ketua DPRA. Publik pun masih menunggu arah keputusan akhir yang akan diambil oleh Muzakir Manaf selaku ketua umum.
Di tengah penantian tersebut, satu hal yang mengemuka adalah besarnya harapan masyarakat wilayah tengah Aceh agar momentum ini menjadi titik balik pemerataan representasi politik. Nama Yahdi Hasan kini bukan sekadar masuk daftar kandidat, tetapi telah menjadi simbol aspirasi daerah yang ingin mendapat ruang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat provinsi. Waktu akan menentukan apakah harapan itu benar-benar berlabuh di kursi pimpinan DPRA.
Laporan : Salihan Beruh

































