Mengendus Bau Busuk di Tepi Sungai Gunung Kasih: Proyek APBD Provinsi, Kualitas Nol, Dugaan Korupsinya Maksimal

hayat

- Redaksi

Jumat, 21 November 2025 - 21:46 WIB

50239 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TANGGAMUS—Di Kabupaten Tanggamus, di mana alam masih menyimpan rona hijaunya, sebuah proyek APBD dengan nilai fantastis Rp 2,2 miliar sedang mempertontonkan sebuah masterpiece ironi. Proyek perkuatan tebing sungai di Pekon Gunung Kasih, Kecamatan Pugung, yang didanai dari kantong rakyat melalui APBD Provinsi 2025, tak hanya diduga sarat penyimpangan material, tetapi juga secara kasatmata mengabaikan “kemewahan” bernama Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi para pekerjanya.

​Seolah-olah anggaran dua koma dua miliar hanya cukup untuk membangun tembok beton, tetapi tidak mampu membeli helm dan rompi pelindung yang harganya mungkin tak sampai 0,001% dari nilai proyek.

*​Tembok Ambisi dan Nafas Sungai yang Terampas*

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Proyek yang dikerjakan oleh CV. Angkatan Sepuluh dengan waktu pengerjaan yang amat santai 120 hari kalender ini, secara heroik sedang memaksa sungai untuk “beradab” dengan memagarinya. Alih-alih mencari solusi ekologis yang ramah, yang tentu saja terlalu merepotkan, pilihan jatuh pada tembok kaku. Ini adalah tindakan elegan dalam merampas hak sungai untuk bernapas dan bergerak secara alami—demi sebuah janji palsu tentang pencegahan erosi.

*​Menjual Nyawa Murah di Bawah Pengawasan Nol*

​Pemandangan paling menggugah adalah para pekerja. Terpantau di lokasi, nampak jelas para punggawa proyek ini dengan gagah berani mempertaruhkan nyawa tanpa satu pun alat pelindung diri standar. Helm, rompi reflektor, sepatu pelindung? Barang-barang “primitif” itu seolah dianggap sebagai aksesori yang tidak perlu oleh kontraktor.

Baca Juga :  Kapolres Tanggamus Hadiri Pembukaan Karya Bakti TNI Kodim 0424 di Kecamatan Limau

Ketika nilai proyek mencapai miliaran, keselamatan satu nyawa pekerja tampaknya dihargai lebih murah daripada satu karung semen. Ini adalah cara cerdas untuk menghemat anggaran—mengorbankan potensi cedera atau nyawa demi efisiensi keuntungan.

​Ironisnya, di tengah tontonan kerja yang mengabaikan K3 ini, justru sosok-sosok penting yang seharusnya bertanggung jawab malah memilih untuk berlibur. Ketika pewarta turun gunung untuk meninjau lokasi, pelaksana dan pengawas pekerjaan sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Jum’at (21/11/2025)

​”Yang punya pekerjaan orang Talang Padang, tapi orangnya tidak pernah turun ke lapangan,” ungkap salah satu pekerja.

Ini adalah manajemen proyek kelas dewa: menyerahkan pekerjaan vital bernilai miliaran sepenuhnya pada nasib dan tangan pekerja, tanpa perlu repot-repot melakukan pengawasan lapangan.

*​Dugaan Penyimpangan: Semen Misterius dan Batu Putih Pilihan*

​Kondisi proyek semakin “menarik” dengan munculnya bisikan-bisikan nakal tentang kualitas material. Pemasangan batu talud yang dilakukan di tengah genangan air, yang berisiko merusak kekuatan pondasi, tampaknya dianggap sebagai teknik konstruksi inovatif. Berhembus kabar bahwa semen yang digunakan bukanlah standar mutu, melainkan semen “misterius”, dan batu yang dipakai adalah batu putih yang diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang seharusnya.

*​Akuntabilitas yang Menguap dan “Apresiasi” dari Preman*

​Ketika rantai pertanggungjawaban mulai dicari, yang muncul hanyalah lempar tanggung jawab yang apik. Kepala Pekon, yang rumahnya didatangi pewarta untuk dimintai keterangan, tidak banyak memberikan kontribusi informasi, melainkan hanya sebuah pengakuan pasif:

Baca Juga :  Inspektorat Kabupaten Tanggamus Sudah Mulai Memeriksa Pekon Taman Sari Yang Diduga Mark Up Anggaran Dana Desa 

“Proyek ini dari gubernur, kita hanya mengusul aja untuk pembangunan penanggulangan sungai, itu pun sudah sering kita ajukan baru ini realisasi,” paparnya.

​Singkat kata: “Kami hanya pengusul, bukan penanggung jawab.”

​Namun, sesi wawancara yang santai itu mendadak mendapatkan “apresiasi” tak terduga. Di tengah perbincangan, muncul beberapa orang yang diduga preman, yang diklaim sebagai pengamanan proyek. Mereka tidak terima dengan kehadiran pewarta, lantas melontarkan ucapan dan gaya preman yang memancing dan mengintimidasi.

​Luar biasa! Proyek ini bukan hanya minim pengawasan teknis dan kualitas, tetapi juga dilengkapi dengan ‘tim pengamanan’ yang siap menjamin ketidaktransparanan dengan cara-cara yang paling klasik dan mengancam. Jika pembangunan infrastruktur harus ‘diamankan’ dengan ancaman, ini bukan lagi proyek masyarakat, tapi proyek yang memiliki banyak hal untuk disembunyikan.
​
*Solusi atau Masalah Baru?*

​Pada akhirnya, proyek perkuatan tebing di Gunung Kasih ini berdiri sebagai monumen yang mengingatkan kita: pembangunan yang sejati bukanlah sekadar membangun tembok, melainkan menjamin keseimbangan alam, menghormati hak pekerja, dan—terutama—menjaga transparansi anggaran.

​Pertanyaan yang menggantung adalah: Apakah ini benar-benar solusi atas erosi, atau hanya masalah baru yang sengaja kita tanam dan biarkan tumbuh subur di bawah naungan anggaran daerah? Masyarakat Tanggamus layak mendapatkan jawaban, dan kemewahan transparansi yang telah mereka bayar mahal melalui pajak.

(Hayat)

Berita Terkait

Satreskrim Polres Tanggamus Amankan Pria Diduga Jual Solar Subsidi, 200 Liter BBM Disita
Operasi Antik Krakatau 2026, Polres Tanggamus Ungkap 25 Kasus Narkotika dan Amankan 27 Tersangka
Kapolres Tanggamus Tinjau Penanaman Kedua Bawang Putih di Pekon Ngarip dan Ngobarmas di Sukamaju
Polres Tanggamus Sosialisasikan Hilangnya 5 Jurnalis dan 3 Kru kepada Nelayan Pesisir
Karutan Kota Agung Bagikan Masker Warga Binaan
LSM PAGAR Lampung Desak Transparansi Anggaran BPBD Tanggamus, Ancaman Aksi Turun Jalan
DPD GILAS Tanggamus Soroti Dugaan Korupsi Anggaran BLUD dan BOK Puskesmas Gunung Alip , Puskesmas Kecamatan Gisting serta Dinkes
Polsek Talang Padang Tangkap Satu Tersangka Pencurian Sepeda Motor di Masjid Gunung Alip, Buru Satu Rekannya

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 13:59 WIB

Humanis dan Terbuka, Dandim 0205/Tanah Karo Letkol Inf. Robert Panjaitan Jadi Sahabat Rakyat dan Sahabat Pers

Selasa, 3 November 2026 - 11:17 WIB

12 Barcode Solar Subsidi Dikaitkan dengan Istri Geuchik Ujong Sikuneng, Solar Diduga Mengalir ke Tambang Emas Ilegal

Senin, 2 November 2026 - 21:44 WIB

Kunjungan Ketua Presidium FPII Bersama Pengawas DPI Ke Lapas Cianjur,Tinjau SAE Warga Binaan Pemasyarakatan

Senin, 2 November 2026 - 13:55 WIB

Khairul Muslim Ambil Formulir Pendaftaran Calon Ketua DKP PWI Sumut

Senin, 2 November 2026 - 13:15 WIB

KSO CV RNK Pucuk Rantau Dibatalkan, Tapi Masih Panen Sawit, Ojahan Sinurat Desak PT. Agrinas dan Pihak Kepolisian Tidak Tegas KSO CV. RNK

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Kompak dan Bersinergi, Satgas TMMD dan Warga Gotong-royong Rehab Masjid dan Tempat Wudhu

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:05 WIB

Operasi Sarang Narkoba Polda Riau Sita 100 Kg Narkotika

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:09 WIB

Kodim 0205/TK Bangun Jembatan Beton di Karo, Progres Capai 60 Persen

Berita Terbaru