Biaya Pengambilan Ijazah di STIKES Nurul Hasanah Timbulkan Pertanyaan, Pihak Kampus Belum Beri Penjelasan Resmi

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Senin, 24 November 2025 - 16:22 WIB

50445 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tenggara – Praktik pungutan biaya sebesar Rp700 ribu per mahasiswa dalam proses pengambilan ijazah di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nurul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, menuai sorotan dari berbagai kalangan. Informasi awal menyebutkan bahwa lulusan STIKES yang telah mengikuti prosesi wisuda diwajibkan membayar sejumlah uang sebelum dapat menerima ijazah mereka, disertai dengan kuitansi pembayaran resmi dari pihak kampus.

Jumlah mahasiswa yang mengikuti wisuda tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 400 orang. Jika dikalkulasikan secara kasar, total dana yang terkumpul dari pungutan pengambilan ijazah mencapai Rp280 juta. Besarnya jumlah tersebut menimbulkan pertanyaan publik terkait transparansi dan dasar hukum yang menjadi landasan penarikan biaya tersebut.

Sejumlah mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan mengaku terkejut dengan kebijakan tersebut karena sebelumnya tidak ada sosialisasi yang jelas mengenai pungutan tersebut. “Kami baru tahu kalau harus bayar Rp700 ribu saat datang ambil ijazah. Pembayarannya resmi, ada kuitansinya, tapi untuk apa peruntukannya, kami tidak tahu,” ujar salah satu alumni yang enggan disebutkan namanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk menelusuri kebenaran dan alasan di balik pungutan tersebut, media melakukan konfirmasi langsung ke pihak STIKES Nurul Hasanah pada hari ini, Senin, 24 November 2025. Konfirmasi ditujukan kepada pihak administrasi dan kepala tata usaha kampus, Bedum. Namun hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi yang diberikan oleh pihak kampus. Pertanyaan mengenai dasar pungutan serta peruntukan dana yang dibebankan kepada mahasiswa belum mendapat jawaban yang memadai.

Baca Juga :  Proyek Penanganan Longsoran di Perbatasan Gayo Lues–Aceh Tenggara Berjalan Tanpa Batching Plant, Potensi Langgar UU Jasa Konstruksi

“Maaf Buk, kami hanya ingin konfirmasi sedikit terkait pengambilan ijazah mahasiswa. Benarkah diminta Rp700 ribu per orang? Dan uang itu untuk keperluan apa saja?” demikian pertanyaan yang diajukan kepada Bedum. Hingga mengakhiri pertemuan, tidak ada penjelasan yang bisa dikutip secara resmi sebagai tanggapan dari pihak kampus.

Sementara itu, sejumlah pihak mempertanyakan legalitas dan regulasi yang menjadi dasar pembebanan biaya tersebut kepada mahasiswa. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2020 tentang Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi Negeri dan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Swasta (BOPTN), tidak disebutkan secara eksplisit bahwa pengambilan ijazah dapat dikenakan biaya tambahan jika tidak tercantum dalam struktur biaya yang disepakati di awal perkuliahan. Selain itu, dalam edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi juga ditegaskan bahwa perguruan tinggi — baik negeri maupun swasta — wajib mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam menetapkan segala bentuk pembiayaan terhadap mahasiswa.

Ketentuan tersebut juga diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, di mana pada Pasal 76 disebutkan bahwa pengelolaan dana pendidikan tinggi harus dilakukan secara transparan dan akuntabel, serta berdasarkan prinsip keadilan dan keterjangkauan.

Baca Juga :  Kegiatan Penyuluhan Narkoba di Kecamatan Deleng Pokisen Agara Terkesan Hanya Menghabiskan Dana Desa

Dengan belum adanya penjelasan resmi dari pihak STIKES Nurul Hasanah, muncul desakan dari berbagai elemen mahasiswa agar kampus segera memberikan klarifikasi terbuka terkait pungutan tersebut. Mahasiswa menuntut transparansi anggaran, termasuk rincian pengeluaran dari dana yang telah dikumpulkan, serta meminta agar kampus mempublikasikan dasar hukum dari kebijakan tersebut, jika benar ada.

Beberapa alumni menyatakan bahwa jika tidak ada dasar hukum jelas, pungutan tersebut berpotensi digolongkan sebagai pungutan liar (pungli), apalagi jika dilakukan tanpa dasar peraturan dan tidak melalui kesepakatan transparan bersama mahasiswa. Mereka juga mendorong adanya pengawasan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah Aceh agar kasus serupa tidak menjadi preseden buruk di kemudian hari.

Polemik ini menjadi peringatan bagi seluruh institusi pendidikan tinggi untuk lebih terbuka dalam hal kebijakan pembiayaan mahasiswa, utamanya terhadap layanan dasar akademik seperti penerbitan dan pengambilan ijazah. Mahasiswa sebagai pihak yang menerima layanan berhak atas informasi yang jelas dan hak untuk menolak pungutan yang tidak berdasar hukum.

Hingga berita ini diterbitkan, konfirmasi lebih lanjut terhadap pihak yayasan pengelola STIKES Nurul Hasanah pun belum berhasil dilakukan. Mahasiswa dan orang tua kini menunggu pernyataan resmi dari kampus guna menjawab berbagai pertanyaan yang saat ini masih menggantung.

Laporan : Salihan Beruh

Berita Terkait

Relawan Prabowo Ikut Menanggung Malu, Jalan Nasional Kutacane–Medan Berulang Kali Terendam, Jembatan Kuning I Didesak Dibongkar
Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita
18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi
Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam
Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM
Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical
Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam
Yahdi Hasan Kawal Langsung Pemulangan Jenazah Warga Asal Aceh Tenggara dari Malaysia hingga Tiba di Kualanamu

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:23 WIB

PT RAD Indonesia Gelar Pelatihan dan Sertifikasi Internasional CERA

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:10 WIB

HOAX! Kalapas Labuhan Ruku Tegaskan Isu RZ Kelola Narkoba di Dalam Lapas Tidak Benar, Lapas Labuhan Ruku Zero Narkoba

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:37 WIB

LPM Kota Pekanbaru Bagikan 5000 Masker untuk Warga Terdampak Asap

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Kantor Hukum Togar Albert dan Rekan, Berikan Penjelasan Resmi Terkait Kepemilikan Lahan Kliennya di Meranti Pandak Rumbai

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:16 WIB

PPWI Ogan Ilir Kecam Akun Ladusing T, Diduga Sebarkan Tudingan Tanpa Bukti

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:45 WIB

Karhutla Berulang, Hutan Terbakar atau Sengaja Dibakar?

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:22 WIB

“Fitnah Rp5 Juta Muncul Saat Uang Ditolak!” Prof. Dr. Sutan Nasomal Desak Polres Mamasa Jangan Diam!

Rabu, 21 Oktober 2026 - 23:57 WIB

Wujudkan Polisi Bersama Masyarakat, Kapolres Simalungun Gelar “Kumpul Bersama Masyarakat” di Nagori Marjandi

Berita Terbaru