Efektivitas Sekolah Lapangan Kakao di Aceh Tenggara Dipertanyakan

Waspada Indonesia

- Redaksi

Rabu, 24 Desember 2025 - 00:30 WIB

50496 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH TENGGARA, 23 Desember 2025 — Program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) untuk komoditas kakao yang digelar Dinas Pertanian Aceh Tenggara menuai sorotan. Kegiatan yang disebut bertujuan mendidik petani dalam pengelolaan hama terpadu ini dinilai belum menjawab persoalan mendasar pengelolaan tanaman kakao yang selama ini menjadi komoditas penting di wilayah tersebut.

Kegiatan SL-PHT budidaya kakao itu terpantau berlangsung di perkebunan milik warga, dengan melibatkan sejumlah petani dari beberapa kecamatan. Dari informasi yang dihimpun, program ini dilaksanakan melalui dua gelombang, masing-masing selama lima hari, dengan jumlah peserta per pertemuan sekitar 35 petani.

Namun, minimnya peserta dan luas jangkauan kegiatan, berbanding kontras dengan besaran anggaran yang dialokasikan melalui belanja daerah. Kegiatan ini tercatat menggunakan anggaran mendekati Rp600 juta. Hal ini memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat dan pemerhati pertanian setempat mengenai efisiensi dan efektivitas penggunaan dana publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Dinas Pertanian Aceh Tenggara menjelaskan bahwa SL-PHT merupakan bagian dari upaya memulihkan produktivitas kakao yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan akibat serangan hama dan penyakit tanaman. Melalui program ini, para pekebun diberikan pemahaman teknis tentang pengendalian hama terpadu sekaligus strategi peningkatan hasil panen.

Baca Juga :  Tidak Ada Malpraktik di RSUD H. Sahudin Kutacane, Kuasa Hukum Dokter Ike Dukung Polres Aceh Tenggara Tuntaskan Proses Hukum

Namun di lapangan, program ini belum menunjukkan dampak yang signifikan. Masih banyak petani yang mengeluhkan tingginya tingkat serangan hama dan lemahnya produktivitas kebun kakao mereka. Kondisi ini membuat sebagian petani mulai beralih ke tanaman lain yang dinilai lebih tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman dan memiliki nilai jual stabil.

“Dulu kakao jadi andalan di sini, tapi sekarang banyak yang tebang. Harga turun, hama makin menjadi. Sudah capek kami rawat, hasilnya tidak sebanding,” kata Juanda, petani kakao asal Tenembak Alas.

Penurunan sentra kakao di sejumlah kecamatan menandai adanya pergeseran prioritas komoditas. Beberapa petani bahkan sudah mulai mengganti lahan mereka menjadi tanaman hortikultura dan palawija lain. Sementara itu, belum ada pendekatan sistematis dalam penyelamatan komoditas kakao berbasis kebijakan yang terintegrasi dengan tata niaga dan teknologi pendamping.

Baca Juga :  Soal Dugaan Upeti Dana Pemberantasan Narkoba Desa di Kecamatan Lawe Alas, Camat Minta Nomor Rekening Ketua DPD LSM Penjara

Pengamat pertanian di daerah ini menilai bahwa program seperti SL-PHT membutuhkan evaluasi ketat, utamanya dalam hal distribusi manfaat program, metoda pelatihan, serta keberlanjutan pascapelatihan. Kegiatan penyuluhan—apalagi dengan biaya besar—diharapkan tak hanya simbolis atau sekadar menggugurkan kewajiban anggaran, tetapi mampu menjadi motor penggerak revitalisasi tanaman kakao di tingkat tapak.

Aceh Tenggara selama ini dikenal sebagai wilayah yang memiliki potensi besar dalam produksi kakao, dengan iklim dan kondisi geografis yang mendukung. Namun ketidakseimbangan antara dukungan teknis, intervensi pasar, serta ketahanan petani menghadapi perubahan, menjadi tantangan utama yang perlu dijawab dengan strategi lebih dari sekadar pelatihan singkat.

Dengan tantangan sektor perkebunan yang semakin kompleks, efektivitas setiap program pembangunan perlu ditakar secara sungguh-sungguh. Tanpa penguatan kelembagaan petani, jaminan harga pasar, serta pengendalian hama yang terintegrasi secara nyata, revitalisasi kakao di Aceh Tenggara dikhawatirkan hanya akan menjadi deretan wacana tanpa hasil konkret.

Laporan : Salihan Beruh

Berita Terkait

BGN Hentikan Sementara 17 Dapur MBG di Aceh Tenggara dan Gayo Lues, Warga Harap Kepastian Layanan
H. Ran Bantah Tudingan Penjualan Aset Mobil PDAM Tirta Agara
Jaksa Agung Tunjuk Eddy Samrah, Putra Aceh Tenggara, Menjabat Aspidum Kejati Aceh
Delapan Penghargaan Nasional, Aceh Tenggara Kukuhkan Komitmen Bangun Keluarga Berkualitas dan Percepat Penurunan Stunting
Aset PDAM Tirta Agara Diduga Dijual Diam-diam, Penegak Hukum Mandek
Kinerja Polres Aceh Tenggara Diapresiasi, Yahdi Hasan Ramud Soroti Perlindungan Generasi Muda
Bupati HM Salim Fakhry Lepas 145 Mahasiswa KKN, Dorong Kemandirian dan Pemulihan Masyarakat Pascabencana di Aceh Tenggara
Dana CSR PLN Kutacane Dipertanyakan, Aliansi Pemuda Desak APH Turun Tangan

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 05:54 WIB

PANTASTIS! Anggaran Bimtek Rp 1,67 Miliar dan Jasa Tenaga Ahli Sekretariat DPRD Pringsewu Dipertanyakan

Kamis, 16 April 2026 - 20:53 WIB

Didampingi Wabup, KONI Pusat Survei Venue Olahraga Dayung dan Ski Air PON 2032 Di Kabupaten Pringsewu

Kamis, 16 April 2026 - 13:24 WIB

Polres Tanggamus Evakuasi Mayat Pria Tanpa Identitas di Pantai Kota Agung Timur

Kamis, 16 April 2026 - 13:08 WIB

DPC ASWIN PRINGSEWU: JAWABAN KABAG UMUM DAN KEUANGAN SEKRETARIAT DPRD PRINGSEWU MEMBINGUNGKAN, PUBLIK BERHAK TAHU DATA ANGGARAN

Kamis, 16 April 2026 - 10:35 WIB

DPC ASWIN Pringsewu Desak Sekretariat DPRD Tegakkan Transparansi

Kamis, 16 April 2026 - 07:22 WIB

DATA TERUNGKAP: ANGGARAN MAKAN MINUM DPRD PRINGSEWU TAHUN 2025 MENCAPAI RP1,35 MILIAR, DINILAI TIDAK WAJAR DAN MEMBOROSKAN

Selasa, 14 April 2026 - 20:23 WIB

Wabup Pringsewu Umi Laila Hadiri Pengajian Akbar Harlah Ke-50 Ponpes Yasmida Ambarawa

Selasa, 14 April 2026 - 18:49 WIB

Bupati Pringsewu Buka Sosialisasi Literasi & Inklusi Keuangan Sicantiks

Berita Terbaru