Polisi Berhasil Ungkap Tabir Kelam Pembunuhan Berencana Berdarah di Aceh Tenggara

WASPADA INDONESIA

- Redaksi

Jumat, 4 Juli 2025 - 07:23 WIB

50964 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kutacane, Waspada Indonesia – Kepolisian Resor (Polres) Aceh Tenggara akhirnya berhasil mengungkap kasus pembunuhan berencana yang mengguncang masyarakat. Tragedi memilukan ini menyebabkan lima orang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka berat. Pelaku diketahui berinisial AS (21), yang ternyata masih memiliki hubungan darah dengan sebagian besar korban.

Korban-korban dalam insiden berdarah tersebut adalah FZ (3), LA (13), EL (15), dan HD (25) – semuanya adalah sepupu pelaku. Korban lainnya, NB (52), adalah paman AS. Sementara satu korban lainnya yang saat ini masih dalam kondisi kritis adalah MT (51), tetangga dari nenek pelaku.

Menurut keterangan dari Kapolres Aceh Tenggara, AKBP Yulhendri, motif pembunuhan ini berakar dari dendam lama yang disimpan pelaku terhadap keluarga korban. Dendam tersebut bermula saat pelaku dan ayahnya tinggal di Kabupaten Bener Meriah. Di sana, ayah pelaku disebut pernah dikeroyok, diusir, dan dihina oleh keluarga korban. Akibat kejadian itu, keluarga AS terpaksa hidup dalam keterasingan dan kesulitan, bahkan sempat tinggal di kawasan pegunungan Kompas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pelaku ini menyimpan dendam lama. Ia percaya bahwa penderitaan dan kemiskinan yang dialaminya selama ini, termasuk harus tinggal di Pegunungan Kompas, adalah akibat dari tindakan keluarga korban terhadap ayahnya. Dendam itu membusuk dalam diam, lalu meledak menjadi tragedi,” ujar AKBP Yulhendri dalam keterangan pers usai pra-rekonstruksi, Kamis, 3 Juli 2025.

Baca Juga :  Bupati Aceh Tenggara Tinjau Dapur Gizi SPPG di Biak Muli, Pastikan Makanan Sehat untuk Peserta Didik

Tragedi ini bukan sekadar kriminal biasa, melainkan sebuah luka keluarga yang dalam. Para korban merupakan orang-orang terdekat pelaku. Dendam yang telah terpendam bertahun-tahun akhirnya menuntun AS untuk menyusun rencana pembunuhan yang sistematis dan kejam.

Kapolres menyebutkan, peristiwa ini sebagai tragedi keluarga yang memilukan. “Bayangkan, seorang pemuda tega menghabisi nyawa paman dan sepupunya sendiri. Ini bukan sekadar pembunuhan, ini ledakan dari luka emosional yang tak pernah sembuh,” tambahnya.

Setelah melakukan aksinya, AS melarikan diri ke hutan dan menjadi buronan selama delapan hari. Ia akhirnya berhasil ditangkap di Desa Kute Mejile, Kecamatan Tanoh Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, pada Senin, 23 Juni 2025.

Dalam penangkapan tersebut, polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti yang digunakan pelaku untuk bertahan hidup selama pelarian. Barang-barang itu di antaranya: sebilah parang, dua unit handphone, dua charger, satu pisau cutter, batu asah, ketapel kayu buatan, korek api, lampu teplon, panci kecil, botol air mineral berisi minyak tanah, jeriken dan botol berisi air putih, tas pinggang, sajadah, dua bungkus plastik kecil berisi garam, kunci sepeda motor, serta goni kecil yang dijadikan tas ransel dengan karet ban.

Baca Juga :  Pemda Aceh Tenggara Tepat Janji, Tulah Desa Cair: Bukti Nyata Kepedulian terhadap Aparatur

Temuan tersebut menunjukkan bahwa AS telah mempersiapkan pelariannya dengan cermat, seolah telah merencanakan skenario bertahan di alam bebas setelah melakukan aksinya.

Atas perbuatannya, AS dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana serta Pasal 80 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang merupakan perubahan dari UU Nomor 23 Tahun 2002.

Ancaman hukuman bagi AS sangat berat: pidana mati, penjara seumur hidup, atau penjara minimal 15 tahun dan maksimal 20 tahun.

“Penegakan hukum akan kami lakukan dengan tegas. Tidak ada toleransi untuk tindakan pembunuhan berencana, apalagi yang melibatkan anak-anak sebagai korban,” tegas AKBP Yulhendri.

Kasus ini menjadi pengingat pahit betapa dendam yang tidak diselesaikan secara bijak dapat berubah menjadi tragedi. Ketika luka batin dipendam dalam diam, dan tak ada ruang untuk rekonsiliasi, maka yang muncul bisa jadi adalah kekerasan yang menghancurkan segalanya.

Tragedi Aceh Tenggara bukan hanya soal satu keluarga yang hancur, tetapi juga tentang masyarakat yang harus belajar dari luka ini: pentingnya penyelesaian konflik secara damai dan penanganan trauma keluarga secara tuntas.

Laporan: Salihan Beruh | Waspada Indonesia

Berita Terkait

Relawan Prabowo Ikut Menanggung Malu, Jalan Nasional Kutacane–Medan Berulang Kali Terendam, Jembatan Kuning I Didesak Dibongkar
Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Dua Pria di Ketambe, 10 Paket Sabu Disita
18 Alat Berat Bantuan Pusat untuk Aceh Tenggara Rusak, Bupati Ngamuk: Jalan Baru Ditimbun Sudah Amblas Lagi
Banjir Kembali Rendam Desa Kuning I, Tanggul Menipis Warga Khawatir Gagal Panen dan Rumah Terendam
Tak Hujan Pun Banjir, Warga Desa Kuning 1 Kecewa Berat ke Pemerintah Aceh dan Titip Harapan ke Gubernur Jawa Barat KDM
Dari Persembunyian di Desa Simpang Semadam Hingga Meninggal di Rumah Sakit, Ada Apa Dalam 24 Jam Terakhir Hidupnya Ical
Buron 19 Bulan, Narapidana Lapas Kutacane Ditangkap di Rumahnya di Simpang Semadam
Yahdi Hasan Kawal Langsung Pemulangan Jenazah Warga Asal Aceh Tenggara dari Malaysia hingga Tiba di Kualanamu

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 22:14 WIB

Sambut Hari Listrik Nasional, PLN Berikan Kemudahan Tambah Daya Listrik bagi Pelanggan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:58 WIB

Respons Cepat Kericuhan Mapolda Ketum AKPERSI Apresiasi Kapolrestabes Palembang

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:10 WIB

HOAX! Kalapas Labuhan Ruku Tegaskan Isu RZ Kelola Narkoba di Dalam Lapas Tidak Benar, Lapas Labuhan Ruku Zero Narkoba

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:37 WIB

LPM Kota Pekanbaru Bagikan 5000 Masker untuk Warga Terdampak Asap

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Kantor Hukum Togar Albert dan Rekan, Berikan Penjelasan Resmi Terkait Kepemilikan Lahan Kliennya di Meranti Pandak Rumbai

Jumat, 23 Oktober 2026 - 00:16 WIB

PPWI Ogan Ilir Kecam Akun Ladusing T, Diduga Sebarkan Tudingan Tanpa Bukti

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:45 WIB

Karhutla Berulang, Hutan Terbakar atau Sengaja Dibakar?

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:22 WIB

“Fitnah Rp5 Juta Muncul Saat Uang Ditolak!” Prof. Dr. Sutan Nasomal Desak Polres Mamasa Jangan Diam!

Berita Terbaru